Dapatkan diskon 10% untuk setiap pembelian buku-buku karya Zuhairi Misrawi melalui website ini

  • 1
  • 2
Prev Next
Pelangi Melbourne
Pandangan Muslim Moderat
Hasyim Asy’ari
Al-Qur’an Kitab Toleransi
Mekkah
Madinah
Al-Azhar
About me

Zuhairi Misrawi akrab dipanggil “Gus Mis” dan intelektual muda Nahdlatul Ulama. Lahir di desa Kapedi, Sumenep, Madura pada 5 Pebruari 1977. Alumnus Pesantren TMI Al-Amien, Prenduan Madura. Menyelesaikan kuliah di Departemen Akidah-Filsafat Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir. Kini sebagai Ketua Moderate Muslim Society, menulis artikel di sejumlah media nasional, mengisi seminar di dalam dan luar negeri, memberikan komentar sosial-keagamaan di televisi dan radio, serta menulis buku

Relevansi hukuman mati di Indonesia (Part1)
khantry design

Personal

In Memoriam: DAI Sejuta Umat

E-mail Print PDF

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Selasa pagi, 5 Juli, KH. Zainuddin MZ berpulang ke rumah Tuhan. Wafatnya mubaligh Betawi yang terkenal akrab “Dai Sejuta Umat” itu sangat mengejutkan. Almarhum, beberapa hari sebelumnya masih mengisi ceramah di salah satu televisi swasta. Ia menyatakan “Jihad yang paling utama adalah jihad melawan korupsi”. Bahkan almarhum menegaskan, bahaya korupsi lebh dahsyat dari terorisme, karena korupsi dapat menyebabkan kemiskinan yang bersifat massif.

 

Kita tahu, ceramah almarhum disampaikan saat publik dikejutkan oleh mega-korupsi yang tak kunjung surut. Petikan ceramah singkat di atas dapat menggambarkan sosok dan karakter yang disampaikan sang dai. Itu sebabnya, jika dibandingkan sejumlah dai yang muncul belakangan, almarhum masih tergolong dai yang paling istimewa.

 

Keistimewaan dakwah KH. Zainuddin MZ bisa digambarkan dalam hal-hal berikut: pertama, almarhum adalah seorang dai yang mempunyai kedalaman ilmu keislaman. Ia sudah memenuhi salah satu syarat utama yang harus dimiliki oleh seorang dai. Setiap berceramah, pasti ayat, hadis, sejarah dan pendekatan semantik mengalir dengan lancar. Mereka yang menyimak ceramah-ceramahnya laksana menyelam ke lautan ilmu yang maha luas. Sebab itu, kalangan cendekiawan dan para ulama sekalipun sangat menyukai dan menikmati ceramah-ceramahnya, karena mengajak kita untuk mengaji sekaligus mengkaji ilmu-ilmu keislaman yang sangat kaya itu.

 

Menurut literatur ilmu dakwah, salah satu aspek yang paling krusial dalam dakwah adalah kapasitas keilmuan sang dai. Seorang dai ibarat guru besar sehingga harus menguasai ilmu keislaman dengan baik. Kaidah fikih mengenal, faqid al-sya’i la yu’thihi –seseorang yang tidak mempunyai kompetensi terhadap sebuah persoalan tidak layak menyampaikannya kepada orang lain. Seorang dai tidak sepatutnya hanya bermodal surban dan retorika kosong, seperti yang menghiasi layar kaca televisi saat ini. Seorang dai harus mempunyai kapasitas keilmuan yang mumpuni, terutama dalam ilmu-ilmu keislaman.

YAMAN, Revolusi Minus Solusi

E-mail Print PDF

Revolusi yang berembus di Yaman menemui kebuntuan. Ali Abdullah Saleh masih bersikukuh menjabat Presiden Yaman hingga tahun 2013.

 

Meskipun ribuan warga Yaman memadati alun-alun perubahan setiap hari, Saleh masih percaya diri di tengah krisis politik yang sudah berlangsung empat bulan. Sejak revolusi berembus pada 27 Januari lalu, lebih kurang 200 orang tewas dalam aksi perlawanan melawan rezim otoriter tersebut. Mereka umumnya kaum muda yang haus perubahan. Selama lebih kurang 32 tahun berkuasa, Saleh dianggap tak melakukan perubahan yang signifikan. Sebagaimana Mesir, rezim yang berkuasa di Yaman juga berlumuran korupsi, kolusi, nepotisme, dan kerap bertindak represif terhadap mereka yang beroposisi. Selain itu, kemiskinan adalah masalah utamanya. Yaman adalah negara Arab dengan pendapatan per kapita 1.060 Dollar AS (Bank Dunia, 2009)

 

Menurut Sarah Philips, penulis buku Yemen’s Democracy Experiment in Regional Perspective (2008) dari Australian National University, Saleh adalah pemimpin otoriter berjubah demokrasi. Ia menggunakan demokrasi sebagai katalisator untuk mempertahankan kursi empuk kekuasaannya yang diraih sejak 1978.

TKI dan Krisis Diplomasi

E-mail Print PDF

Tragedi hukuman mati bagi TKI Ruyati, dengan cara dipancung, menimbulkan kemarahan massif di tengah-tengah masyarakat. Itu wajar, karena Kerajaan Arab Saudi tidak memberitahu pemerintah RI sebelum eksekusi itu dilakukan. Kedutaan Saudi di Jakarta juga menolak meminta maaf kepada pemerintah RI atas kelalaian tersebut. Pernyataan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa yang menegaskan Arab Saudi telah meminta maaf hanyalah isapan jempol belaka, karena mereka langsung membantahnya.

 

Sikap tersebut menggambarkan betapa Arab Saudi begitu superior dalam memandang RI. Ironisnya, Saudi tidak mau mengakui kesalahan besar tersebut, terutama dalam memberikan perlindungan yang semestinya terhadap TKI. Pertanyaannya, kenapa Arab Saudi begitu superior dan dominan dalam memandang RI?

 

Pertama, Arab Saudi memandang RI sebagai negara yang jauh lebih membutuhkan untk lapangan kerja bagi WNI. Dulu, umumnya orang Indonesia datang ke Saudi untuk menuntut ilmu, bahkan mengajar karena kedalaman ilmunya. Tapi, dalam beberapa dekade terakhir, terjadi ekspor TKI dalam jumlah sangat besar. Saat ini tercatat 1,5 juta TKI mengadu nasib di negeri kelahiran Rasulullah SAW itu. Pada awal abad ke-20, RI dikenal sebagai lumbung ulama. Seratus tahun kemudian, RI dikenal sebagai lumbung TKI, yang semakin merendahkan posisi RI di mata Arab Saudi.

NII versus NKRI

E-mail Print PDF

Eksistensi Negara Islam Indonesia (NII) ibarat ikan di sebuah kolam. Kadang muncul ke permukaan, kadang tenggelam ke dasar kolam. Tapi, pengakuan sejumlah eks birokrat dan aktivis perihal dugaan penipuan yang dilakukan Presiden NII KW 9, Pandji Gumilang, telah membuka mata semua pihak, bahwa NII adalah gerakan sistematis yang dapat mengancam Negara Kesaturan Republik Indonesia (NKRI).

 

Dari segi kuantitas, jumlah anggota NII mencapai 150.000 orang. Tetapi, sebagai sebuah “negara”, NII mempunyai kabinet, gubernur, bupati, camat, dan kepala desa. Tidak hanya itu, NII didukung oleh pendanaan yang dihimpun dari para anggotanya. Pusat pemerintahannya adalah Pesantren al-Zaytun. Oleh sebab itu, sebagai sebuah “negara” yang dikelola secara modern, NII dapat dikatagorikan sebagai ancaman bagi NKRI. Kenapa demikian?

 

Titik dilematis NII dapat dilihat dari beberapa hal: Pertama, NII adalah negara agama yang berlandaskan al-Quran dan Sunnah. Dari sudut filosofis-sistemik, NII bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, yang menjamin kebhinekaan agama, suku, dan bahasa. NKRI adalah negara Pancasila, sementara NII adalah negara agama.

 

Kedua, NII memandang NKRI sebagai negara perang (dar al-harb). Ideologi seperti ini amat berbahaya, karena melegalkan kekerasan terhadap siapapun yang dianggap tidak sejalan dengan NII. Bahkan, mereka menyebut mereka yang tidak terlibat dalam keanggotaan NII sebagai orang kafir. Ironisnya, yang dicap “kafir” tidak hanya orang-orang non-muslim, tetapi juga orang-orang muslim yang tidak berafiliasi dengan NII. Bahkan, seorang anak dapat mengafirkan orang tuanya sendiri jika tidak mau ikut serta dalam NII.

Cara Penguburan Bin Laden

E-mail Print PDF

Hal yang tidak kalah menarik soal Osama bin Laden adalah penguburannya. Ini menarik bagi kalangan Muslim yang mempunyai tradisi khusus soal penguburan seorang yang meninggal dunia.

 

John Brennan, penasihat kontraterorisme dan keamanan dalam negeri Presiden Barack Obama menegaskan, jenazah Osama dikuburkan di Laut Arab. Pihak AS memastikan Osama dikuburkan sesuai dengan tradisi Islam. Meski demikian, penguburan di laut masih menimbulkan kontroversi.

 

Ibnu Rusyd dalam Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid menegaskan, para ulama fikih, khususnya Imam Syafii, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad menegaskan tentang kewajiban penguburan seorang Muslim. Hal tersebut mengacu pada Surat al-Mursalat: 25-26 dan Surat al-Maidah: 31.

 

Sementara itu, menurut Sayyid Sabiq dalam Fiqh al-Sunnah, pembenaman jenazah di laut dapat diperkenankan bagi seorang yang meninggal dunia dalam perjalanan di tengah lautan. Jika diperkirakan tidak akan sampai ke daratan dalam beberapa hari, bisa dimasukkan ke dalam karung dan ditenggelamkan ke laut.

 

Imam Syafii berpendapat, jenazah bisa dikebatkan pada papan sehingga bisa dibawa arus ke daratan. Namun, Sayyid Sabiq lebih cenderung pada pandangan yang membolehkan pembenaman jenazah ke laut.

 

Melihat kedua pandangan tersebut, sebenarnya pembenaman jenazah Osama ke laut tidak bisa dibenarkan dalam khazanah klasik. Alasannya Osama tidak meninggal di tengah lautan.

Bagi Anda yang ingin memesan buku, memberikan komentar dan menghubungi penulis, silakan mengirim e-mail ke: zmisrawi@yahoo.com atau zuhairimisrawi@gmail.com dan bisa menghubungi nomor seluler: 08121335317 atau 081210366927 bisa juga mengirimkan pesan melalui twitter di akun @zuhairimisrawi

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com