Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Selasa pagi, 5 Juli, KH. Zainuddin MZ berpulang ke rumah Tuhan. Wafatnya mubaligh Betawi yang terkenal akrab “Dai Sejuta Umat” itu sangat mengejutkan. Almarhum, beberapa hari sebelumnya masih mengisi ceramah di salah satu televisi swasta. Ia menyatakan “Jihad yang paling utama adalah jihad melawan korupsi”. Bahkan almarhum menegaskan, bahaya korupsi lebh dahsyat dari terorisme, karena korupsi dapat menyebabkan kemiskinan yang bersifat massif.
Kita tahu, ceramah almarhum disampaikan saat publik dikejutkan oleh mega-korupsi yang tak kunjung surut. Petikan ceramah singkat di atas dapat menggambarkan sosok dan karakter yang disampaikan sang dai. Itu sebabnya, jika dibandingkan sejumlah dai yang muncul belakangan, almarhum masih tergolong dai yang paling istimewa.
Keistimewaan dakwah KH. Zainuddin MZ bisa digambarkan dalam hal-hal berikut: pertama, almarhum adalah seorang dai yang mempunyai kedalaman ilmu keislaman. Ia sudah memenuhi salah satu syarat utama yang harus dimiliki oleh seorang dai. Setiap berceramah, pasti ayat, hadis, sejarah dan pendekatan semantik mengalir dengan lancar. Mereka yang menyimak ceramah-ceramahnya laksana menyelam ke lautan ilmu yang maha luas. Sebab itu, kalangan cendekiawan dan para ulama sekalipun sangat menyukai dan menikmati ceramah-ceramahnya, karena mengajak kita untuk mengaji sekaligus mengkaji ilmu-ilmu keislaman yang sangat kaya itu.
Menurut literatur ilmu dakwah, salah satu aspek yang paling krusial dalam dakwah adalah kapasitas keilmuan sang dai. Seorang dai ibarat guru besar sehingga harus menguasai ilmu keislaman dengan baik. Kaidah fikih mengenal, faqid al-sya’i la yu’thihi –seseorang yang tidak mempunyai kompetensi terhadap sebuah persoalan tidak layak menyampaikannya kepada orang lain. Seorang dai tidak sepatutnya hanya bermodal surban dan retorika kosong, seperti yang menghiasi layar kaca televisi saat ini. Seorang dai harus mempunyai kapasitas keilmuan yang mumpuni, terutama dalam ilmu-ilmu keislaman.















